Friday, 19 November 2010

Menjodohkan Bukan Persoalan Sepele

Jodoh menjodohkan... secara kebudayaan sudah menjadi bagian dari masyarakat kita.

Terkesan mau ikut campur sajaaaaa urusan orang, tapi melihat seseorang bahagia membuat kita pun menjadi bahagia...

Dikatakan bahwa ada hadits yang mengatakan bahwa Allah menyediakan tempat di surga jika seseorang telah membantu sahabatnya mendapatkan pasangan hidup... Tentunya pahala tersebut sungguh menyejukkan hati...

Namun perkara jodoh menjodohkan bukan perkara yang sepele, semua situasi dan kondisi harusnya direnungkan secara mendalam.

Bibit-Bebet-Bobot mempunyai peran dalam kesuskesan dalam perjodohan, matchmaker seharusnya sudah memikirkan kompatibilitas dari pasangan yang akan di kenalkan.

Runtutan masalah sikap, keyakinan, adat istiadat, pendidikan, sifat serta latar belakang keluarga harus sudah dipikirkan masak-masak oleh si mak comblang. Perbedaan yang terlalu jomplang akan menyebabkan suatu perjodohan menjadi alot untuk dieksekusi. Jangan sembarang mentang-mentang si A masih jomblo si B juga... Mereka juga manusia yang punya perasaan bukan. Bahkan dari cerita orang tua saya yang kebetulan dokter hewan, untuk menjodohkan satu sapi ke sapi lain juga harus melihat kompabilitasnya kok, apalagi manusia.

Satu hal yang mesti ditanamkan dalam benak matchmaker adalah apa yang dia pikirkan ideal bagi dirinya belum tentu cocok untuk pasangan tersebut. Mungkin kita cocok berteman dengan kedua calon dijodohkan, mungkin kita berpikir hal-hal baik terhadap calon tersebut, tapi harus diingat hubungan pertemanan dan hubungan percintaan adalah suatu hal yang berbeda, biasanya dalam hubungan percintaan lebih terbuka sifatnya melihat personalitas pasangan dibandingkan pertemanan.

Hal lain yang perlu dipikirkan adalah mak comblang perlu membiarkan pasangan yang dijodohkan itu mengembangkan hubungan tersebut sendiri tanpa campur tangannya. tugas mak comblang berakhir ketika dia sudah berhasil membukakan jalur komunikasi antara dua orang yang dia jodohkan. dia tidak perlu turut campur terhadap keputusan pasangan tersebut apakah mereka akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak, semua keputusan adalah di tangan mereka sendiri, toh mereka adalah dua insan yang sudah dewasa.

Satu hal lagi terkait masalah ideal, tolak ukur yang dipakai mak comblang belum tentu sesuai dengan calon yang akan dijodohkan. mak comblang harus bisa menahan egonya untuk terlalu memberikan penilaian terhadap calon yang akan dijodohkan. salah satu contoh adalah kejadian nyata yang merupakan cerita dari kenalan gw: awalnya Y dijodohkan dengan seorang teman A oleh X dimana ternyata bertahan cukup lama masa pacaran mereka. Lalu katanya si A mau memutuskan Y melalui X, dan mungkin supaya Y tidak sedih, Y dijodohkan ke B oleh X lagi. time flies, ternyata Y tetap ingin kembali pada si A, dan A mau kembali lagi ke Y, X malah melarang-larang dengan alasan yang berjibun menurut pandangan X.

Menurut pendapat gw, cara X memaksakan suatu perjodohan is totally wrong... X terlalu ikut campur kepada perasaan orang itu sudah melanggar privacy seseorang. Gw ingin bertanya jika terjadi pernikahan yang terpaksa antara Y dan B, apakah X mau bertanggungjawab? Bagaimana dengan keturunan Y dan B serta keluarga kedua belah pihak if something wrong happens... Ayo, sekarang sudah berantakan, mana tanggung jawab Anda...

Hal yang terakhir adalah tanggung jawab. Mak comblang harus selalu punya rasa tanggung jawab atas suatu hubungan yang telah dia jodohkan. hal tersebut diperlukan agar seorang mak comblang tidak sembarang menjodohkan orang karena cuma masih jomblo, dan tidak sembarang memaksakan kehendaknya dalam hubungan antara pasangan yang dijodohkan.

alhamdulillah, beberapa sahabat gw telah suskes menemukan pasangan hidupnya melalui suatu perjodohan (dalam hal ini dibukakan jalur komunikasi ya bukan dipaksakan)... alhamdulillah sampai sekarang mereka rukun sejahtera karena mak comblang mereka telah melakukan tugasnya sesuai dengan batasan-batasan yang sesuai. Pasangan-pasangan tersebut telah berhasil mengembangkan hubungan mereka sendiri sesuai dengan keinginan mereka...

oh ya, i'm proud to inform you that i'm the one of the succesful Mak Comblang lho, tapi jujur gw kapok dech krn biarpun pasangan yang gw kenalkan sudah bahagia dengan beranak pinak, tetap aja gw deg-degan kalo terjadi apa2x hehehehehe... semoga sahabat gw tersayang itu selalu happy dengan pasangannya dan anak keturunannya sampai tua :D

Zia Bukan Anak Sapi

kabar terakhir dari kancah kesehatan masyarakat Indonesia yang lumayan booming adalah pelarangan iklan susu formula (sufor) terhitung tahun 2011 yang disetujui oleh ibu Menteri Kesehatan kita. tiada kata lain, hanya saya cuma dapat bilang: BRAVO!

salut kepada ibu menteri ini, karena berani mendobrak industri susu di Indonesia, dimana menurut pandangan saya iklan susu (dan makanan instan) di televisi sungguh-sungguh agak berlebihan, dengan pernyataan bahwa produk mereka dapat membuat anak cerdas lah, kuat lah dan sebagainya. menurut pandangan pribadi saya, sungguh informasi seperti itu cenderung tidak informatif mengenai aspek apa saja yang diperlukan dalam perkembangan masa tumbuh seorang anak.

i am not against susu formula. saya pro ASI.

saya adalah salah satu dari beberapa ibu yang terbantu dengan kehadiran sufor ini, karena saya hanya dapat menyediakan ASI kepada anak saya sampai usia 5 bulan saja.

namun, biarpun saya tidak dapat men-supply ASI secara maksimum kepada anak saya, tapi saya bukan ibu yang bodoh, dan saya tidak mau diperlakukan demikian.

saya menyadari bahwa larangan iklan sufor di televisi ini tidak terlepas dari peran gerakan ibu menyusui yang akhir-akhir ini sedang giat mengkampanyekan gerakan ASI. sungguh saya berterima kasih banyak kepada kalian karena larangan iklan tersebut adalah suatu langkah yang maju dalam rangka mengkampanyekan gerakan ASI ini. semoga kampanye gerakan ASI ini tetap dapat berlanjut.

namun sayangnya bulan Oktober-November 2010 ini telah terjadi hal yang sangat tidak mengenakkan hati ibu-ibu yang (terpaksa) menggunakan sufor untuk bayinya. salah satu pengurus asosiasi yang aktif dalam kampanye ini mengeluarkan pernyataan yang mungkin akhir beberapa ibu yang bersimpati jadi tidak bersimpati. akhirnya malah banyak orang merasa kenapa beberapa kampanye ASI baik yang dilakukan oleh suatu asosiasi maupun oleh orang-orang yang pro dan sukses ASI menjadi propaganda ASI NAZI. adapun beberapa ibu mempertanyakan labeling yang diberikan kepada anak yang minum sufor sebagai anak sapi.

labeling ini membuat saya cukup tersinggung. oleh karena itu, saya akan menyatakan hal-hal sebagai berikut, tidak dalam rangka meminta belas kasihan dari siapapun, bukan sebagai bantahan terhadap kenyataan bahwa saya tidak dapat memberikan ASI secara maksimum kepada anak saya dan juga bukan sebagai alasan-alasan melegalkan perbuatan saya memberikan susu formula kepada bayi saya.

pernyataan saya adalah sebagai berikut:
  1. saya adalah ibu yang pro ASI, saya tidak mengenal cara lain dalam memberikan asupan gizi kepada seorang bayi selain ASI, dari awal hamil sampai sekarang saya hanya tahu bahwa bayi itu disusui oleh ibunya dengan ASI.
  2. saya tidak mengerti mengenai manajemen ASI, hal yang saya sesali, saya pun sudah berusaha ikutan milis ibu-ibu menyusui, tapi saya tidak memperoleh jawaban yang tepat. saya baru mengerti manajemen ASI setelah 5 bulan, dan terima kasih kepada suster di RS St. Carolus bahwa kalian semua begitu helpful. (saya merekomendasikan untuk ibu-ibu yang ingin mengetahui seluk beluk ASI, konsultasilah ke RS St. Carolus, informasi mereka tidak judgemental).
  3. saya beruntung mempunyai keluarga, bapak dan ibu, bapak dan ibu kandung yang sangat suportif dengan tekad saya untuk memberikan ASI. mungkin tidak semua seberuntung saya, mempunyai keluarga yang pro ASI. dan suami yang rajin memberikan dukungan dengan membeli buku ASI dan mengantar saya konsultasi. jadi kalaupun saat itu saya gagal memberikan ASI, bukan karena keluarga saya tidak mendukung, tapi ketidaktahuan saya tentang manajemen laktasi.
  4. saya tidak suka dengan cara-cara beberapa ibu-ibu yang cenderung menghakimi "kenapa gak ASI", "masa gak bisa ASI"... cara begitu bukan solusi, malah membuat orang yang sedang berupaya tertekan. andai saja ada yang bisa berkata saat itu: ada yang bisa saya bantu tentang ASI, itu lebih melegakan.
  5. ternyata membaca e-mail milis atau twit tentang keberhasilan seseorang pumping ASI atau lulus S1 S2 S3 sebenarnya lebih cenderung membuat orang tertekan. ternyata bukan saya yang mengalami, teman saya pun yang sedang usaha juga. minder jadinya.
  6. saya ingin memberikan ASI kepada anak saya dan hopefully anak kedua bisa sukses ASI bukan ingin ikutan tren. saya sudah menyadari dari dulu, saya hanya tahu bahwa bayi harus diberi ASI, bahkan bertanya memang bisa bayi pakai sufor. saya memilih ASI karena lebih alami, dan karena chemical substances yang terkandung dalam sufor membuat saya tidak mau menggunakan sufor. ketika saya terpaksa melakukannya, semua sudah saya perhitungkan, dengan membaca komposisi sufor yang saya berikan kepada anak saya, dan menghentikan dengan yang lebih alami ketika usia anak saya sudah dapat mencerna susu alami. dalam hal ini termasuk makanan anak saya,saya selalu menggunakan yang organik dan tidak pernah sekalipun kecuali biskuit bayi saya menggunakan makanan instan.
  7. bagi saya, apapun asupannya, tidak akan menyebabkan semerta-merta anak menjadi tidak rentan penyakit ataupun super duper genius. ibarat bensin, ASi dan sufor adalah bensin mobil, tapi kalau mobil tidak dipelihara tetap saja akan rusak. begitu juga jika ibunda lalai memberikan asupan gizi kepada dirinya sendiri sehingga kualitas gizi ibu menyusui menurun tentu akan berdampak kepada anaknya. sama halnya dengan iklan dan marketing sufor yang berlebihan memasarkan produknya, anak jadi cerdas, berempati, kuat, sehat, bisa bikin prakarya, menyebut nama dinosaurus. tidak ada sesuatu yang diperoleh dengan instan. anak harus juga diberikan kasih sayang dan diberikan simulasi.
  8. menurut pandangan saya pribadi kalau memang orang tua ingin anaknya tumbuh kembang secara optimal hingga mencapai seperti iklan di televisi maka orang tua harus melakukan hal-hal sebagai berikut: (a) perhatikan asupan gizi bayi, pilihlah yang alamiah, ibu harus makan yang bergizi bagaikan memikirkan gizi pada makanan si bayi, (b) anak harus diberikan simulasi dan pengarahan, pendidikan langsung oleh orang tua tentu lebih baik karena orang tua yang tahu anaknya sendiri. tidak ada produk apapun di dunia yang akan menciptakan anak genius dengan sekedar minum susu, dan (c) orang tua harus cerdas dalam mengolah informasi, carilah selalu second opinion, tidak termakan iklan semata namun dapat membuat riset kecil-kecil mengenai produk yang akan dikonsumsi anak kita. terakhir adalah kasih sayang dari keluarganya itu paling penting dan terpenting.
  9. saya tidak suka anak saya yang pertama akan terkena label anak sapi. dia adalah anak saya dan suami saya, saya yang mengandung dirinya selama 9 bulan, saya sayang dia sepenuh hati. i'm not a perfect mother, tapi anak saya bukan anak sapi.
  10. ASI atau sufor adalah keputusan individual, memang ASI adalah hak bayi, namun saya yakin bahwa apapun keputusan yang ibu-ibu ambil itu adalah keputusan yang harus kita hargai privacy-nya. dan saya bukan ibu yang bodoh, kalau ada yang ingin membantu saya dalam pemberian ASI gunakan cara-cara yang sesuai dengan pendidikan saya: saya bukan tipikal ibu yang akan memberikan susu kental manis kepada bayi saya dan menyebabkan kematian. mohon gunakan cara-cara kampanye yang lebih menyetarakan kemampuan berpikir seorang ibu bukan merendahkan.
mohon maaf jika ada yang tersinggung namun tulisan ini hanya suatu coretan mengenai perasaan saya semata.

Maaf

maafkan... ternyata sudah lama banget gak update blog ini... ternyata living as single mother (dengan Mr.Y sekolah) cukup cukup repot...

sekarang gw mau update blog gw dgn beberapa artikel yang gw sudah muat di FB gw dulu yak...

Wednesday, 26 August 2009

FAQ

Siapakah Mr. Y dan Mrs. T?
Mr. Y dan Mrs. T merupakan dua orang sejoli (hiyaaa!) yang sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai newlywesds tapi juga bukan very-experienced-people dalam pernikahan pula. Mereka baru menikah untuk sekitar 2 tahun 5 bulan, itu juga sebagian besar, dalam hitungan sekitar 60%, dihabiskan dengan cara very-long-distance-marriage. FYI, mereka juga menjalani very-long-distance-relationship selama 3,5 tahun sebelumnya lho... Umur mereka sama, sedang menapaki gerbang usia 30-an. Jadi kalau nanti ada post yang menceritakan sekelumit kacau balaunya their marriage, jangan kaget, namanya juga masih ego tinggi hehehe...
Dalam blog ini akan juga diceritakan kehidupan mereka sehari-hari dengan seorang bayi-beranjak-balita mereka yang cantik itu bernama BaBY Z yang berumur saat ini 16 bulan.
Mengapa blog ini dibuat?
Blog ini sebenarnya akan menjadi diary portal Mr. Y dan Mrs. T. Dalam bahasa perkantoran sie, dalam rangka menindaklanjuti kepergian Mr. Y pada tanggal 13 September 2009 nanti ke Jepang dalam rangka dinas belajar. Alhamdulillah sejak tahun lalu, sejak kelahiran BaBy Z, Mr. Y mendapat beasiswa dari suatu badan-negara-yang-bertugas-mengurusi-pembangunan-indonesia untuk meneruskan kuliah strata 2 di UI dan UIJ Jepang. Nah, tanggal 13 September 2009 besok, Mr. Y sudah harus di-packing untuk dikirim ke Nigata, Jepang.
Mengingat pengalaman sebelumnya bahwa long-distance-relationship akan sering menimbulkan miscommunication dan sekarang sudah anak bayi yang perkembangannya sangat menakjubkan untuk dipantau, sekalian menghemat pulsa international call pula, maka blog ini dibuat.
Siapakah pemeran utama dalam blog ini?
Ada Mr. Y, ada Mrs. T dan BaBy Z. Kenapa pakai nama samaran yak? bukan berusaha being anonymous tapi secara blog ini akan dibaca minimal sie sama teman-teman keluarga ini, lebih baik supaya mereka lebih enak membacanya, tidak langsung mengasosiasikan Mr. Y, Mrs. T dan BaBy Z secara langsung ketika bertemu di kantor, di rumah dan dimana-mana atau ketika sedang membacanya.
Mengenai profil masing-masingnya akan dijabarkan pada post berikutnya yak...